by

Diduga Mark Up, LSM Forkorindo Minta Kejati Periksa Proyek Lampu Taman Di Dinas Pariwisata Tanjungpinang.

InDepthNews.id (Tanjungpinang) – Proyek pembangunan lampu taman dikawasan agrowisata Bukit Manuk – Senggarang Kota Tanjungpinang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang senilai Rp.1.675.755.346,- (satu miliar enam ratus tujuh puluh lima juta tujuh ratus lima puluh lima ribu tiga ratus empat puluh enam rupiah) yang dikerjakan oleh PT. ZBM dan konsultan pengawas CV. BKC diduga terindikasi mark-up.

Indikasi mark-up itu karena harga per-tiang lampu jalan yang dinilai tidak masuk akal karena harga tiang hingga mencapai Rp.9 jutaan lebih (1,6 Miliar dibagi 175 tiang lampu jalan), padahal menurut salah satu konsultan yang dimintai tanggapannya mengatakan nilai tersebut tidak masuk akal dan terkesan nuansa ketidakberesan.

Foto Proyek Pembangunan Lampu Taman Dikawasan Agrowisata Bukit Manuk - Senggarang Kota Tanjungpinang
Foto Proyek Pembangunan Lampu Taman Dikawasan Agrowisata Bukit ManukSenggarang Kota Tanjungpinang

“Kalau saya menilai, estimasi termahal beserta pajaknya dan keuntungan perusahaan paling mahal sekitar 6-7 Jutaan,” sebut Konsultan yang wanti-wanti minta namanya tidak disebutkan, Selasa (14/12)

“Saya menduga ada indikasi mark-up diproyek itu dan terkesan pemborosan anggaran,” Tambahnya.

Sementara itu, Ketua DPD LSM Forkorindo Provinsi Kepri, Parlindungan Simanungkalit yang juga ikut melakukan survei dilokasi terlihat geleng-geleng kepala, dia sangat tidak habis pikir dengan proyek tersebut yang menurutnya ada ketidak beresan dalam proyek tersebut.

“Mengapa proyek ini bisa semahal ini, bagaimana cara menghitung nilai proyek ini, sehingga 1 tiang lampu saja sampai bernilai 9 jutaan lebih, sepertinya ada yang tidak beres ini,” sebut Parlin panggilan akrab pria berkumis ini, Selasa (14/12)

Parlin berencana akan membuat laporan Kejaksaan Tinggi Kepri terkait proyek tersebut

“Nanti coba kita konsultasikan dulu ke Kejati Kepri, bila perlu kita buat laporan, karena sepertinya kita menduga ada indikasi mark-up diproyek ini,” sebutnya.

Dia juga mengaku heran mengapa proyek pembangunan lampu taman tersebut juga terkesan pemborosan anggaran karena jarak antara tiang lampu yang terbuat dari cor-an itu pun sangat berdempetan dan terkesan menumpuk di satu tempat.

“Heran saya, mengapa pemerintah kota melalui dinas Kebudayaan dan pariwisata membuat proyek sampai se- brutal ini, dan tidak ada manfaat sama sekali buat masyarakat, sementara diluar sana banyak masyarakat yang ekonominya sulit akibat pandemi covid-19 malah tidak disentuh,” paparnya.

“Disaat pihak semua pihak berjibaku menolong masyarakat yang ekonominya terdampak akibat covid-19, Pemko Tanjungpinang malah membuang-buang anggaran dengan proyek yang tidak ada manfaat sama sekali buat masyarakat,” tambah Parlin.

Untuk itu, dia meminta agar dia meminta kepada Walikota Tanjungpinang untuk mengevaluasi kinerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, agar lebih mengedepankan program prioritas terhadap kondisi masyarakat, bukan malah membuat proyek kegiatan yang malah terkesan membuang-buang anggaran.

“Kita minta Walikota segera mengevaluasi kinerja Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, karena tidak memiliki rasa sensitivitas terhadap kondisi masyarakat, tetapi malah membuat kegiatan yang terkesan membuang-buang duit rakyat,” pungkas Parlin

(Tim)

Comment

News Feed