by

Budiman Ketua LSM Fortaran Akan Laporkan Terkait Dugaan Dana BRGM Dipermainkan.

InDepthNews.id (Meranti) –Provinsi Riau termasuk salah satunya wilayah gambut dan mangrove yang menjadi perhatian khusus pemerintah pusat terkait rehabilitasi Gambut dan mangrove, salah satunya Kabupaten Kepulauan Meranti dengan tingginya abrasi pantai dan lahan gambut dan mangrove Di Meranti, Tak tanggung tanggung pemerintah sudah serius dengan persoalan tersebut dengan mengucurkan milyaran bahkan Triliunan dana untuk Provinsi Riau menangani persoalan Gambut dan mangrove ini.

Terkait seriusnya pemerintah dengan persoalan krisis abrasi pantai dan ekosistem Di Meranti sebagai sosial kontrol, diduga dimaafaatkan oleh sekelompok orang untuk mengambil keuntungan pribadi.

Hal itu di sampaikan Budiman Selaku Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pemantau APBD dan APBN (Fontaran) ini memantau kinerja Di setiap Desa di kabupaten kepulauan Meranti, salah satunya desa Mayang Sari kecamatan Merbau, hasil pantauan LSM Fontaran di desa tersebut penuh dengan kejanggalan terkait pekerjaan dari pokmas penanaman mangrove yang diadakan Di Desa tersebut.

“Terkait pekerjaan BRGM di setiap Desa yang dapat Pengadaan BRGM Di Meranti, salah satunya Desa Mayang Sari, informasi yang kami dapati Diduga kelompok tersebut sudah cair 25% Dan sudah di tarik melalui ATM, oleh ketua kelompok sendiri dengan kartu ATM anggota yang PIN nya di buat ketua kelompok sendiri, Tampa di ketahui oleh anggotanya,” Ungkapnya Kamis (12/08).

Tambahnya lagi. “Kita sudah menghubungi ketua kelompok saudara SN, untuk keterangan lebih lanjut dan SN berjanji bertemu saja tak enak di jelaskan di HP tutur saudara SN, kita tunggu niat baik ketua kelompok, untuk keteranggan lebih lanjut, namun SN terkesan mempermainkan LSM hingga tidak jadi bertemu Tampa ada alasan yang jelas membatalkan janji bertemu,”.

“Kami menduga ada permainan ketua kelompok dan pihak Desa Mayang Sari, tidak transfaransi kepada pokmas karna saat kita telusuri dan mencari informasi di desa tersebut, ketua kelompoknya , adalah perangkat Desa selaku kepala Dusun, Bendahara kelompoknya adalah sekretaris Desa, dan saat kita komfirmasi Kedas sebagai pengawas dan mengawasi kegiatan tersebut, kelompok tersebut sudah membuat rekening masing masing anggota, dan dananya dicairkan melalui rekening masing masing,” ucapnya dengan neada heran.

Anehnya nya lagi. “ATM dan nomor pinnya di pegang oleh ketua kelompoknya sendiri, untuk pencairannya juga langsung dilakukan oleh Ketua kelompok sendiri, Diduga ada permainan ketua kelompok, agar jangan ketahuan berapa dana yang di dapati oleh anggotanya, dan kita juga mendapat info ada yang memiliki rekening sendiri dan dana yang dicairkan oleh anggota di ambil kembali oleh ketua kelompok, kita menduga ada permainan dan manipulasi dana tersebut oleh ketua kelompok, saya selaku ketua LSM Fontaran akan laporkan kepihak berwajib terkait dugaan ini,”.

Media InDepthNews.id mengkomfirmasi melalui via telfon seluler terkait hal tersebut kepada Kades Desa Mayang Sari, Ibrahim selaku Kades Mayang Sari tidak membenarkan hal tersebut dan merasa tidak melanggar aturan dan tidak memotong apa yang harus di terima pekerja dan merasa tidak takut untuk di periksa aparat terkait hal tersebut.

“Oh itu tidak betul tu, semua dana langsung cair ke rekening masing-masing, kan pekerjaan baru 50%, 50% lagi belum selesai, ini aja sepertinya dananya tidak cukup, kalau dananya tidak cukup itu pandai-pandai ketua kelompok lah cari dananya dari mana, kalau masalah dilaporkan oleh LSM, ya kita nggak takut diaudit oleh aparat,” tutupnya Kamis (12/08).

(BATUBARA).

Comment

News Feed