by

Aris Merdeka Sirait : Lurah,Ustadz dan Pekerja Swalayan di Kota Tanjungpinang Terancam Dikebiri.

InDepthNews.id -Komnas Perlindungan Anak RI mengutuk keras Lurah, Ustad dan pekerja Toko Swalayan terduga pelaku kejahatan seksual terhadap dua anak dibawah umur, masing-masing usia 13 dan 11 tahun secara berulang dan tidak ada toleransi terhadap predator dan monster anak di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Ketiga pelaku sudah patut dikenai  pidana pokok 20 tahun penjara dengan hukuman tambahan berupa Kebiri (Kastrasi) kamis (27/05/21).

Perbuatan ketiga pelaku ini merupakan tindakan pidana luar biasa (extraordinary crime) dan khusus. Dengan demikian penyelesaian hukumnya harus khusus dan berkeadilan.

Tidak ada toleransi terhadap kejahatan luar biasa ini. Peraturan Pemerintah (PP) No. 70 Tahun 2020 tentang tatalaksana  Kebiri serta UU RI No.17 Tahun 2016 tentang Penerapan Perpu No. 01 Tahun 2016 mengenai perubahan kedua atas UU RI.No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak patut diterapkan  dengan ancaman pidana pokoknya maksimal seumur hidup.

Demi keadilan dan kepastian hukum ketiga  Pedator dan monster terhadap ke dua anak  ini,  patut dihukum maksimal,   demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (KOMNAS ANAK) RI dalam keterangan Persnya di kantornya di Jakarta, Jumat (28/05/21).

Atas kerja cepat jajaran satreskrim polres Tanjungpinang dalam mengungkap tabir kekerasan seksual bergerombol ini(Geng Rape), Komnas Perlindungan mengapresiasi dan  menyampaikan ucapan terima kasih setinggi-tingginya, oleh karenanya Komnas Perlindungan Anak mendukung Polres Tanjungpinang untuk menerapkan tindak pidana khusus dan luar biasa yang dilakukan pelaku.

Lebih jauh Arist Merdeka menjelasankan, dalam keterangan persnya, akan melakukan pendampingan terhadap 2 korban, Komnas Perlindungan Anak segera membetuk Tim Rehabilitasi Sosial Anak guna melakukan mitigasi trauma terhadap korban disamping pengawalan proses hukum.

Dari kejadian ini, diharapkan pemerintah Tajungpinang hadir untuk menyelamatkan dan memberi perlindungan bagi korban. Dinas Sosial dan Kadis PPPA tidak boleh tinggal diam,Harus bergerak.

Aris berharap, atas kejadian ini pemerintah Kota Tanjungpinang bergerak mencanangkan gerakan perlindungan anak di tiap-tiap Rumah Tangga, Kelurahan, Desa, Dusun dan Kampung.

(Redaksi)

Comment

News Feed