by

Pak Gubernur, Biaya Pendidikan Di SMKN- 5 Tanjungpinang Terlalu Memberatkan Orangtua Siswa.

InDepthNews.id(Tanjungpinang) – Salah satu bentuk keberhasilan Kepemimpinan pemerintah adalah menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan siap kerja. Salah satu wujud itu dibentuklah sekolah-sekolah kejuruan yang bernama SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Namun sayangnya seperti kata pepatah “pendidikan itu mahal” masih kita jumpai di negara yang menganut sistem otonomi daerah saat ini, yang mungkin tidak semua warga masyarakat mampu untuk menjangkaunya.

Sehingga niat simiskin untuk merubah nasibnya, nasib orangtuanya melalui pendidikan seperti Pungguk merindukan bulan, bisa dilihat tapi tak mungkin untuk diraih.

Seperti yang terjadi disalah satu sekolah kejuruan di Tanjungpinang, SMKN-5 Tanjungpinang, sekolah negeri kejuruan bidang perkapalan ini yang mematok harga baju seragam dan perlengkapan hingga mencapai 4 jutaan, ditambah biaya bulanan sekolah sebesar Rp.250 ribu/bulan, ditambah lagi biaya Diklat yang harus dibayar orang tua hingga mendekati Rp 7 juta rupiah.

Dari kakulasi biaya itu, salah satu orangtua yang menyekolahkan anaknya disekolah itu sungguh merasa keberatan, sementara si anak hanya mau bersekolah di sekolah tersebut.

“Saya cuma mau sekolah di SMKN-5, karena saya mau jadi pelaut,” demikian kata si anak (nama dirahasiakan).

Namun yang menjadi kegelisahan sianak saat ini, yaitu pihak sekolah selalu mendesak agar segera melunasi uang baju seragam sementara orangtuanya saat ini belum memiliki uang untuk membayar baju seragam sekolah tersebut.

Miris betul nasib si mamak melihat nasib anaknya, apalagi suaminya yang hanya sebagai buruh serabutan, sementara dirinya membantu suami sebagai buruh cuci. Harapannya untuk merubah nasib melalui perjuangan sianak dengan pendidikan sudah diujung tanduk, pihak sekolah terus saja mendesak untuk segera membayar uang baju membuatnya pusing tujuh keliling.

” Darimana saya bisa mengusahakan uang sebanyak itu disaat seperti sekarang ini, mana lagi uang kontrakan rumah sudah didesak pemilik rumah untuk segera dibayar,” ujar si ibu

Kemaren, sambungnya, anaknya disuruh sekolah ukur baju, katanya ngak bayar, bayarnya belakangan, tapi ketika mau ukur baju, ditanya sama penjahitnya, ada bawa duitnya tidak.

“Karena tidak bawa duit akhirnya tidak jadi mengukur baju karena ditagih uang bajunya, sedih saya lihat anak saya,” ujarnya

Diapun saat ini hanya mengaku pasrah kepada ALLAH SWT saja, sambil usaha mencari uang untuk mencicil uang baju seragam sekolah anaknya.

“Pusing saya pak, mana bapaknya belum ada kerja lagi, uang seragam ditagih terus,” ujar ibu itu.

Diapun berharap agar pemerintah untuk bisa membantunya meringankan biaya biaya seragam sekolah anaknya di SMKN-5, jangan sampai anak satu-satunya yang masih sekolah juga harus putus sekolah seperti yang dialami adiknya.

(Budi)

Comment

News Feed